Biofir dipakai Drs. Suwandoko, Surabaya

Obat Asam Urat & Kolesterol - Kalung Biofir

Saya ada keluhan yang saya derita selama 3 bulan yaitu asam urat yang tinggi sekali, kolesterol saya juga tinggi. Kami selama 3 bulan memakan nasi jagung dan ikannya hanya cuma krupuk. Waktu saya bertemu Bpk Rifai, saya dianjurkan memakai kalung BioFir (bio necklace infrared) ini dan diberi waktu cuma 1 hari. Keluhan saya sebelumnya, rasanya di pada kepala bagian belakang saya kalau dipakai menoleh ke kiri atau kanan sangat sulit sekali. Itu saya alami selama 3 bulan dan setiap 2 minggu sekali saya beli obat. Dalam waktu 1 hari saya pakai kalung bio-fir ini, pertama yg saya rasakan adalah sakit di kepala saya itu hilang.

Drs. Suwandoko, Surabaya

Kanker payudara sembuh dengan Gamat Emas

Saya sering sekali sakit di bagian persendian setiap kali bangun pagi, terus terang kadang-kadang saya mengalami capek-capek di siang hari, setelah 1bulan kemudian saya diperkenalkan dengan produk-produk kesehatan dari GNE melalui kakak saya yaitu Ibu Ona, produknya adalah Teripang gamat sea cucumber Gold-G.

Setelah mengkonsumsinya 2 kali sehari dan saya oleskan gold-g di bagian yang sakit dan terserang kanker payudara, alhamdulillah semuanya dapat terobati + 1 minggu, dan 1 minggu kemudian saya mengkonsumsi produk-produk lainnya seperti air RO dan menggunakan Bio Matras, Bio Necklace (Kalung Biofir), kemudian semua keluhan dan rasa sakit saya pada bagian persendian akhirnya teratasi dan terobati dengan tuntas. Kini saya merasa lebih sehat tanpa merasa sakit-sakit lagi.

Kemudian saya memiliki masalah dengan kulit wajah yang sering berjerawat, setelah saya mengoleskan dengan Gold-G, sea cucumber dan mengkonsumsi spirulina, serta rutin membasuh muka dengan air RO, akhirnya jerawat yang sering timbul di wajah saya sudah berkurang dan saya pun bisa mendapatkan kulit wajah yang semakin cerah dan sehat tanpa khawatir akan timbul jerawat yang selalu mengganggu penampilan saya.

Kanker payudara sembuh dengan Gamat EmasN a m a : Tjindawati
U m u r : 63 tahun
Alamat : Bandar Lampung
Keluhan : Kanker Payudara
Jenis Produk : Gold-G

Seorang penderita diabetes tidak jadi diamputasi karena Gamat Emas

Seorang bapak penderita diabetes selama bertahun-tahun tidak sembuh meski telah berobat secara terus-menerus. Akhirnya dokter memvonis harus diamputasi. Beliau akhirnya mendapatkan kesembuhan dan tidak jadi diamputasi setelah meminum Gold-G (gamat emas) dan mengoleskan pada bagian kaki yang telah membusuk.

Seorang penderita diabetes tidak jadi diamputasi karena Gamat Emas

Seorang penderita diabetes tidak jadi diamputasi karena Gamat Emas

Gamat Emas atasi penyakit kaki gajah

Kaki beliau terus membengkak dan bertambah besar. Setelah terapi dengan meminum dan mengoleskan gamat emas atau Gold-G, beliau tidak lagi demam, dan menjadi lebih bertenaga. Pada perkembangan selanjutnya, beliau dapat berjalan.

Gamat Emas atasi penyakit kaki gajah

Gamat Emas atasi penyakit kaki gajah

Gamat Emas bantu penderita luka bakar

Seorang ibu yang tubuhnya mengalami luka bakar lebih dari 80%, terbantu dengan Gold-G dalam waktu singkat. Lihat perbedaan antara sebelum dan sesudah terapi dengan meminum & mengoleskan Gold-G atau gamat emas.

Gold Gamat Bantu Penderita Luka Bakar

Gold Gamat Bantu Penderita Luka Bakar

Gamat Emas atasi psoriasis (masalah kulit)

Seorang anak (Moh. Nasriq Helmi) yang baru berumur 11 tahun menderita psoriasis (masalah kulit), dapat terbantu dengan Gold-G gamat emas dalam waktu singkat.

Gold Gamat Atasi Masalah Kulit

Gold Gamat Atasi Masalah Kulit

Jeli Gamat Emas jinakkan penyakit Lupus (Serigala Liar)

Laporan Khusus Majalah Trubus
Edisi: 441 - Agustus 2006/XXXVII, hlm. 122

Bayangan kematian menyergap benak Rachma Dwiyanti ketika dokter mendiagnosis lupus. Perempuan 32 tahun itu gontai keluar dari ruang praktek. Tiba-tiba saja ia takut menghadapi kehidupan. Maklum, sebulan silam nyawa adiknya terenggut karena penyakit itu. Haruskah ia mengikuti jejak sang adik menuju ke haribaan-Nya?

Kengerian itu berawal pada sebuah siang nan terik. Ketika berlibur di Yogyakarta, alumnus Universitas Diponegoro itu menyempatkan diri ke Malioboro. Di pusat keramaian itu tiba-tiba mata kaki terasa amat nyeri, seperti dipukul palu. Tak kuasa menahan nyeri, ia pun menjerit sehingga puluhan pasang mata tertuju padanya.

Semula Rachma Dwiyanti mengira terkilir akibat kelelahan. Itu diperkuat pernyataan ahli refleksi yang ditandangi beberapa saat setelah peristiwa terjadi. Setelah dipijit satu jam, rasa nyeri lenyap. Namun, seminggu berselang, ketika Rachma kembali ke Banjarmasin, rasa nyeri kembali hinggap. Kali ini, rasa nyeri tak mempan diurut. Ia tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya lantaran nyeri meluas. “Jika kambuh, jalan menjadi susah,” kata Rachma. Wanita kelahiran 21 Januari 1974 itu berbaring di tempat tidur lantaran tak berdaya melakukan aktivitas apa pun.

Selain nyeri di seluruh sendi, di tangan kerap muncul benjolan. Jika sudah begitu, ia demam dan tangan tak mampu digerakkan. Menjelang malam penghujung Mei 2005, nyeri hebat ia rasakan, sehingga berjalan pun terseok-seok. Suaminya, Muhammad Frisyal Pattisahusiwa yang baru pulang dari bekerja terkejut. Frisyal baru menyadari penyakit istrinya bukan sekedar pegal linu yang mudah disembuhkan obat warung. Ia langsung melarikan Rachma ke rumah sakit yang berjarak 40 km dari rumahnya.

4 dari 11

Diagnosis dokter menunjukkan penyakit yang diderita Rachma bukan sembarang rematik. Lantas ia dirujuk ke ahli rematologi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Di sana ia menjalani serangkaian tes imunologi dan serologi. Hasilnya, ANA (antinuclear AB) pada darah ibu 2 anak itu positif kuat. Nilai C3 hanya 72 mg/dl jauh di bawah kisaran normal, 90-180 mg/dl. Artinya ia mengidap Sistemic Lupus Erythema (SLE) yang lebih dikenal dengan sebutan lupus. ANA merupakan parameter lupus.

Jika positif berarti ada aktivitas antibodi penyebab lupus. Sedangkan C3 dan C4, bagian kelompok protein globulin darah penghambat terjadinya peradangan dan infeksi. Jika nilainya di bawah kisaran, berarti mudah terjadi reaksi radang penyebab linu. Setelah 6 bulan bergelut dengan nyeri sendi, Rachma sadar penyakitnya sama dengan penyebab kematian sang adik. Sebelumnya ia sempat curiga, tetapi dari berbagai informasi yang ditelusuri sangat jarang saudara sekandung mengidap lupus. Namun, ia merasa beruntung penyakit ini terdeteksi lebih awal dibandingkan adiknya.

Sekitar 12 tahun dokter memvonis Dina -begitu adiknya dipanggil- hanya nyeri rematik. Saat Dina merasa kesakitan ketika disentuh, anggota keluarga lain mengira ia bercanda. Lima bulan menjelang ajal barulah ketahuan ia mengidap penyakit kelebihan imun.

Kelebihan imun akibat tubuh memberi reaksi berlebih terhadap rangsangan benda asing. Kemudian tubuh memproduksi terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditunjukan untuk melawan jaringan tubuh sendiri. Sebab antibodi yang diproduksi berupa antinuclear AB (ANA) dan Anti double stranded DNA (Anti ds DNA) yang justru merusak tubuh.

“Gejalanya biasa-biasa saja, sehingga banyak dokter yang tidak mengetahui itu adalah gejala lupus. Banyak penderita lupus yang meninggal karena tidak terdeteksi secara benar”, ujar dr. Toga Iwanoff Kasjmir SpPD-KR, ahli rematologi RSCM. Gejala penyakit ini hanya berupa demam, nyeri sendi, lemah atau lesu, dan rendahnya trombosit.

Agar tidak terjadi kesalahan diagnosis, ahli-ahli medis menggunakan daftar 11 kriteria ARA (American Rheumatism Association) untuk mendiagnosis lupus. Di antaranya ruam diskoid atau bercak putih di wajah, ruam malar kupu-kupu, radang selaput paru-paru atau jantung, dan kelainan ginjal– protein dalam air kencing melebihi 500 mg/24 jam.

Indikasi lain, radang sendi non-erosif pada 2 sendi atau lebih, kelainan darah seperti anemia, leukopenia, trombositopenia, fotosensitivitas (sensitif terhadap sinar matahari), dan kelainan sistem saraf kejang atau kelainan jiwa.

Sariawan di rongga mulut dan tenggorokan, kelaian immunologi (anti ds DNA positif, anti antibodi positif atau sel LE positif), anti-antibodi positif atau sel LE positif), dan kadar antibodi -antinuklir (ANA) abnormal) juga menjadi pertanda serangan lupus. Jika terdapat 4 gejala dari 11 parameter di atas, maka seseorang didiagnosis mengidap lupus.

“Sayangnya, gejala itu muncul dalam waktu panjang”, kata dokter alumnus Universitas Indonesia itu. dari satu gejala ke gejala lain kerap berselang satu tahun.

Wajah Rembulan

Untuk mengatasi lupus, Rachma menenggak obat-obat mengandung steroid dan metrotreksit untuk kanker. Obat itu dikonsumsi agar serangan lupus tidak meluas ke organ tubuh lain. Namun, mengasup bahan kimia itu justru menambah penderitaan.

“Tiga gigi saya patah dalam satu tahun”, kata Rachma. Steroid memang bahan kimia pengeropos kalsium tulang dan gigi. selain itu, wajahnya membulat -dikenal dengan istilah moonface (wajah rembulan)-, kulit kering, rambut rontok, tulang punggung linu setiap saat, asam urat meningkat, dan lambung perih. Walau begitu, Rachma tetap mengkonsumsinya. Sebab, obat-obatan lupus memang hanya steroid.

Awal Maret 2006, Rachma membaca artikel Trubus tentang gold-g tripang jeli gamat(sea cucumber) mengendalikan lupus sendi. Lantaran ingin mempercepat kesembuhan, Rachma langsung mencobanya. Setelah seminggu mengkonsumsi, penderitaannya berkurang. Linu hilang, rambut menjadi tebal, kulit kembali kenyal dan halus. Sebelumnya, efek steroid membuat kulit Rachma kusam dan kering.

Kabar gembira itu juga dibuktikan melalui tes laboratorium setelah satu bulan konsumsi gamat (tripang). Hasilnya, niai ANA negatif, C3 sebagai aktivitas protein antibodi berkisar normal dengan angka 98 mg/dl, C4 meningkat ke angka 20 mg/dl, dan Laju Endap Darah 19 mm/jam. Ginjalnya diperiksa untuk mengetahui efek samping konsumsi gamat emas. Nilai uretum 15 mg/dl, tetap pada ambang batas 13-43 mg/dl dan kreatinin 0,6 mg/dl, pada kisaran normal 0,5-0,9 mg/dl.

“Dokter bilang, lupus saya lebih terkendali,” kata Rachma. Kesehatan itu dapat bertahan asal ia menghindari matahari langsung pada pukul 10.00-15.00, istirahat cukup dan mengasup makanan bergizi.

……….

Menurut Howard Benedikt, MS, DC ahli nutrisi dari Long Island University, Amerika Serikat, menyebutkan vitamin E, omega-3 EPA, dan kelompok antioksidan gamat atau sea cucumber berpengaruh dalam pembuangan sitokinin. Hasil temuan Dr. Mittchell Kurk direktur medis Biomedical Revitalization Center of Laurence, New York, menunjukkan gamat meningkatkan kesehatan fisik bagi 70% pengidap radang atau linu sendi, tanpa efek samping. Sebab teripang jeli gamat memiliki komponen kondroprotektif yang memperbaiki tulang muda dengan merangsang metabolisme anaboliskondrosit serta menghambat reaksi katabolisme saat peradangan.*